Notification

×

Iklan

Advertisement

Tag Terpopuler

Petani Musi Rawas Beralih ke Sistem Tabela Saat Kemarau, Hemat Air, Biaya, dan Percepat Panen

Minggu, 26 Juli 2026 | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T23:42:37Z


MUSI RAWAS, KABAREMPATLAWANG.COM – Sejumlah petani di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, mulai beralih menggunakan sistem tanam benih langsung (Tabela) pada musim kemarau tahun ini. Metode tersebut dinilai lebih hemat air, biaya, dan tenaga kerja dibandingkan sistem tanam konvensional.


Salah satu wilayah yang banyak menerapkan sistem tersebut adalah Desa E Wonokerto, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas. Para petani di desa itu memilih metode Tabela karena proses penanaman lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Selain itu, sistem ini juga lebih hemat penggunaan air sehingga dinilai cocok diterapkan saat musim kemarau.


Salah seorang petani di Desa E Wonokerto, Sunar, mengaku telah menggunakan sistem Tabela selama tiga musim tanam terakhir. Menurutnya, metode ini membuat biaya tanam jauh lebih hemat karena dapat dikerjakan sendiri tanpa harus menyewa tenaga tanam.


"Sudah sekitar tiga musim ini pakai Tabela karena lebih irit, lebih cepat, dan bisa dikerjakan sendiri," katanya, Jumat (24/7/2026).


Sunar mengatakan, sebelumnya biaya untuk sekali tanam bisa mencapai lebih dari Rp150 ribu guna membayar tenaga kerja. Namun kini biaya tersebut tidak lagi dikeluarkan.


"Dulu sekali tanam butuh biaya sekitar Rp 150 ribu, sekarang pakai cara ini tidak keluar uang karena bisa dikerjakan sendiri," ujarnya.


Hal senada disampaikan petani lainnya, Joko. Ia mengatakan metode Tabela membuat petani lebih hemat biaya sekaligus mengurangi kebutuhan air irigasi.


"Metode ini menanam benih langsung di lahan tanpa pindah tanam sehingga lebih hemat tenaga dan biaya. Penggunaan air juga berkurang drastis dibanding sistem tanam tradisional," katanya.


Menurut Joko, hasil panen yang diperoleh selama menggunakan sistem Tabela tetap maksimal dan tidak mengalami penurunan. Bahkan, metode ini dinilai lebih sesuai diterapkan pada musim kemarau.


"Kalau cara ini lebih hemat air karena tidak memerlukan penggenangan penuh terus-menerus, cukup menggunakan pengairan terputus atau macak-macak. Masa tanam juga lebih cepat dan hasil panennya tetap maksimal," ujarnya.


Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa E Wonokerto, Ari Irawan, mengatakan penggunaan sistem Tabela di wilayah tersebut terus meningkat. Meski demikian, masih ada sebagian petani yang memilih menggunakan sistem tanam konvensional.


"Sudah banyak yang memakai sistem Tabela saat ini, tapi sebagian masih ada juga yang memilih menggunakan sistem konvensional," katanya.


Ari menjelaskan, sistem Tabela dilakukan dengan menanam benih padi secara langsung ke lahan sawah tanpa melalui proses penyemaian dan pemindahan bibit.


"Kalau sistem konvensional, bibit disemai dulu di lahan kecil, kemudian dipindahkan ke sawah. Saat proses tanam biasanya membutuhkan beberapa orang," jelasnya.


Selain menghemat tenaga kerja, Ari mengatakan sistem Tabela juga mampu mempercepat masa panen sekitar 10 hari dibandingkan metode konvensional. Penggunaan air pun lebih efisien, terutama pada lahan sawah yang memiliki sistem drainase yang baik.


"Keuntungan lainnya yakni biaya tanam lebih murah karena cukup dikerjakan satu orang. Selain itu juga lebih hemat air, apalagi kalau drainasenya bagus sehingga pengeringan lahan lebih cepat," ungkapnya.


Ia menambahkan, alat tanam Tabela dapat dibuat sendiri oleh petani menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar.


"Alatnya bisa dibuat dari paralon bekas yang diberi lubang dengan jarak tertentu. Rodanya cukup menggunakan bekas tutup tandon air, sedangkan pegangannya bisa memakai besi atau kayu," tuturnya. *


#MusiRawas #Pertanian #Tabela #TanamBenihLangsung #Padi #KabarEmptLawang #Tugumulyo #SumateraSelatan #MusimKemarau #Petani #HematAir

×
Berita Terbaru Update